Sepagi ini, Aku sudah melangkahkan kaki
menyusuri nadi kehidupan yang-masih- belum ku temukan. Terbiasa bertemu dengan
jauhnya jarak yang hampir setiap saat melingkar di tubuh yang lunak ini. Lunak?
Ya, tubuhku lunak, sangatlah lunak. Lunak yang ku maksud ialah tak memiliki
kekuatan apapun untuk menjelma menjadi sosok yang keras (re;
kuat/kokoh/berdaya) dan mampu membelot. Aku sebetulnya memerlukan segumpal
keyakinan dan kekuatan untuk membelot. Membelot untuk apa? Membelot dari
sekelumit alur kehidupan yang sudah separuhnya kulalui dalam hidup ini (jika ku
perkirakan jatah umurku kurang dari satu abad di dunia ini). Seberapa rumit
yang ku alami? Sebegitu besarkah rasa ingin tahu kalian? Apa memang harus ku
ceritakan?. Percuma saja rasanya, jika aku bilang pada kalian. Ku tak ingin
pada akhirnya kalian bilang “itu bukanlah
sesuatu hal yang harus dianggap rumit; kau itu hanya bisa mengeluh”. Rumit ku ini bukan tentang hiruk pikuk maupun
pragmatis-dilematis menempuh kehidupan. Rekam jejak ku mengenai ketirnya hidup
sudah diakui oleh ratusan pasang mata yang menyaksikan ku selama ini. Rumit
yang ku maksud adalah “bagaimana bisa ku
berjalan lurus tanpa memikirkan diri ini sedang merindu”. Merinduku ini
entah tertuju pada siapa. Ia yang fana tentu saja membuatku bingung. Hadir dengan dua sisi yang berbeda.
Yang satu menjadikan ku begitu memuja nya, satu lagi mengajarkanku memaknai
kebahagiaan yang benar-benar membahagiakan. Perihal rindu yang kurasa, ini semacam
tindak tanduk yang membelenggu hasrat-yang jika bersentuhan dengan jarak tidak
ada kompromi lagi baginya dengan klimaks yang tak terbendung. Dengan kaki yang
masih melangkah lurus mencari sang nadi, akan kuceritakan sosok itu satu
persatu.
Ku akan menceritakan dari ia yang sering
membuatku memujanya. Terhitung sejak hari dimana sang Maha membawa kita pada
tempat yang sama, 309 hari sudah aku melewati ini sebagai “teman”-nya. Masih dalam keadaan yang sama, ku biarkan ia memenuhi
jagad khayal ini sebagai competitor
terberatku sejak dulu. Tentu, untuk berkata “aku
baik-baik saja” tidaklah mudah. Semogaku yang terdengar oleh semesta ialah “Semoga setiap langkahku mendekatkan, bukan
menjauhkan”. Jangan bertanya mengapa, setiap orang memiliki satu jawaban
yang menolak untuk diberi pertanyaan. Semesta lah yang mendorongnya agar tetap
menjadi competitor bagiku supaya lebih
semangat (lagi) dalam mencapai mega, walau asteroid-asteroid lebih sering
menghampiri untuk menghujamku. Semogaku, ada padanya. Pusat semesta yang ku beri
banyak semoga dalam setiap doa.
Sejauh ini aku hanya bisa berdoa tanpa
bisa berusaha. Aku tahu, pada akhirnya ini akan menjadi suatu kesia-siaan
belaka yang hanya akan membuang-buang waktuku saja. Mengapa demikian?
Jawabannya sangatlah klise. Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tak bisa
dipaksakan. Sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai sebuah takdir oleh Tuhan,
maka tidak akan secara serta merta berubah begitu saja. Hal klise lain nya
adalah, sesuatu yang tidak bisa dipaksakan itu adalah perihal hati. Hati yang
mengagumi sosok manusia secara ragawi tanpa tahu resiko yang harus ditanggung
kedepannya. Selama 309 hari ini, aku sudah menanggung beban itu sendirian.
Beban menyukai-mengagumi-patah hati
sekaligus dalam satu siklus. Mirisnya, aku mengalami itu tanpa pernah aku
berkomunikasi langsung dengan nya. Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri,
mengapa bisa aku mengalami ini? Mengapa bisa aku melewati semua dengan
persepsiku sendiri? Mengapa dan mengapa lain nya terus menggelayuti pikiranku.
Selama 309 hari ini aku hidup dengan rasa kagum dan persepsi tentangnya hanya dari
sudut pandang ku saja. Setiap hari nya, tak lepas dari mataku tanpa
memperhatikan dia. Tak luput dari pengawasanku dari segala tingkah lakunya. Di
mulai dari hal-hal kecil yang ia lakukan. Seperti saat dia membuat Mading
(Majalah Dinding) atau saat menaruh informasi yang ada dalam secarik kertas dan
menggantungkannya pada tali dengan menggunakan penjepit kertas. Hal-hal itu
yang selalu menjelma dalam pikiran ini sehingga membentuk persepsi yang
berlebih. Semisal; “Dia itu segalanya
banget, pokoknya paket komplit deh. Cowok tercakep, terpintar, tersegalanya”.
Semua itu dinilai dari sudut pandangku saja, 180 derajat berbeda dari kenyataan
dilapangan. Sesungguhnya dia adalah sosok yang paling hebat dalam mengacuhkan
seseorang, termasuk aku. Sekalipun aku tahu begitu, tetapi aku sanggup bertahan
dengan egoku terhadapnya ini selama ratusan hari. Memang terlihat benar-benar
terlihat sepele saja perkara ini.
Lalu, kenapa aku bilang semua ini rumit?
Oke, jadi begini. Rumit yang pertama, aku tak bisa lepas maupun melepaskan
diriku yang sudah terikat pada sosoknya. Rumit yang kedua, aku tak bisa menolak
hatiku ku bahwa-disisi lain, ada seseorang yang tanpa lelah mengajarkanku cara
memaknai kebahagian dengan sebenar-benarnya. Disini, ku akan mulai memasukkan
ia (sosok kedua) dalam kisah ini. Ia mulai hadir dalam kondisi ku yang belum
100% terlepas dari ia (sosok pertama). Namun, adanya ia mampu meluluh-lantakkan
segala benteng persepsi ku mengenai “jatuh
cinta” yang dirasa tak wajar baginya. Menurutnya, cara ku dalam menghadapi jatuh cinta tidak lah seperti kebanyakan
orang. Aku hanya mengungkung diriku akan sesosok orang yang baik-dimataku
hingga merasa pantas untuk dikagumi sampai menaruh harapan berlebih pada sosok
itu. Ia (sosok kedua) memulai sesuatunya dengan rapi. Pun aku tahu, ia (pasti)
hanya menganggapku sebagai teman. Seiring berjalannya waktu, ku mulai menyadari
satu hal. Rasa Peduli. Hal tersebut yang sering ia perlihatkan padaku juga
kepada teman-teman nya yang lain. Rasa peduli nya begitu tulus, tanpa pamrih.
Sedikit pun ia tak pernah pandang bulu dalam hal menolong. Sekali pun yang dia
bantu (tolong) adalah rival atau
orang yang sering menjatuhkan nya, ketulusan akan kebaikan hatinya tak dapat
tertutupi. Aku sering melihat itu, maupun mendengar dari teman-teman nya yang
lain. Sikap pedulinya itu yang mengoyakkan persepsiku bahwa ada sosok lain yang
jauh dari kata sempurna tetapi ia bisa menyempurnakan.
Kepeduliannya itu semakin hari menorehkan
dercak kagum pada hati ku, terlebih dalam pikiranku. Semakin hari semakin tak
kutemukan cacat pada sikapnya terhadapku. Kadang ku berpikir, tidak akan
berhasil dua orang insan berlainan jenis bertahan lama dengan status berteman;
jika setiap harinya sering bertemu, bertegur sapa bahkan sampai bertukar
pikiran. Hal semacam itu yang menjadi krusial ketika hasrat untuk mengagumi
akan naik level pada yang lebih complicated,
yaitu jatuh cinta. Terkadang, akal sehat pun mampu mengalahkan perihal yang
terasa oleh hati. Akal sehat mampu menegur hati yang sudah terbutakan oleh
segalanya. Contohnya saja, aku. Aku yang dulu se-begitu tak bisa lepasnya pada
ia (sosok pertama), sedari ini saat aku bertemu dengannya (sosok kedua), ego-ku
mampu diredam. Aku mulai bisa menilai segala sesuatu dari berbagai sudut
pandang, tak hanya menurut pandanganku saja, Aku mulai bisa menakar sesuatu
dengan-seperlunya saja- tanpa harus berlebihan lagi. Aku mulai bisa memandang
setiap orang itu dianugerahi kekurangan beserta kelebihannya masing-masing, dan
tak akan sama. Semua itu ku dapat dari ia yang mampu mengajarkan semua hal
melalu rasa peduli nya. Rasa peduli itu ia ungkap tidak melalui lisan. Ia perlihatkan
melalui setiap gerak gerik pada kesehariannya. Dan disadari atau tidak,
sepertinya aku mulai jatuh hati tanpa diketahui pasti kapan.
Rumit ini belum selesai sampai disini. Aku
butuh kekuatan untuk membelot. Membelot dari keadaan yang sudah sejauh ini ku
alami. Pun disini aku merasa dilematis sekali. Aku mulai bisa melepas satu competitor ku dan menerima competitor ku yang baru. Namun, aku
takut. Ketakutan ini bukan lah sesuatu yang tidak beralasan. Aku hanya takut ia
(sosok kedua) memandangku sebagai gadis yang labil. Aku takut ia menganggap
rasa yang mulai terasa ini hanyalah ilusi ditengah keadaanku yang sebelah
tangan ini.
Matahari sudah berada diatas kepalaku. Itu
artinya sudah sekian lama aku menyusuri jalanan yang tak berujung ini. Tak terasa
seraya ku bercerita, tadi selama dipersinggahan aku menulis beberapa bait kata.
Ini ku buat untuk ia yang bersedia-peduli-tanpa pernah meminta balasan. Untuk
ia yang bersedia mendekat disaat ku berusaha menjauh. Untuk ia yang
terus-menerus memahami tanpa ku mau mengerti. Untuk ia yang selalu ada walau
aku menghindar. Untuk ia yang kini sudah ku pilih menjadi semestaKu. Untuk ia
yang selalu ku semogakan disetiap doaku. Untuk ia yang selama ini menjadi
penyejuk jiwa. Untuk ia yang bersedia bertahan atas segala minusnya aku. Dan
untuk ia yang kurahapkan bisa bersamaku hingga akhir nanti. Semoga pada
akhirnya, semesta berpihak padaku. Semesta bisa mengizinkan ku bersama dengan
ia, semestaKu kini.
Teruntuk
kau, duhai …..
Hai, SemestaKu!
Kini ku dapat memanggilmu dengan sebutan itu tanpa
ragu.
Kini ku dapat utarakan apapun tentang
semestaku kepada khalayak ramai.
Kini ku leluasa untuk mengekspresikan semuanya.
Terima Kasih,
Untuk semua permulaan yang tidak disengaja.
Untuk sebuah pertemuan yang diluar dugaan.
Untuk setiap hal yang terlalui tanpa pernah terencana, begitu berkesan.
Kita sekarang,
dahulunya pernah bertemu pada
satu titik yang sama.
Mengedar pada
lintasan orbit yang sama.
Hingga di suatu ketika, garis waktu mempertemukan kita.