Senin, 28 Desember 2015

Untitled



Ku tulis ini pada kesekian malam dibulan Desember yang mengharu biru ini. Ku tuliskan prolog diri untuk menutup rasa yang sekian lama telah terpilin dan terikat rapi diantara alveolus-alveolus dalam tubuh. Terima kasih, kuucapkan. Pada Ia yang sudah memberitahuku sebuah lagu-Untitled. Lewat lagu ini aku telah melewati beberapa fase. Fase dalam memahami, mencoba untuk mengerti, dan tahu untuk memposisikan diri. Belum ku putuskan, akankah berlanjut ataukah berakhir. Diam ku pun tak menyelesaikan masalah. Sebuah rasa hadir tentunya menjadi sebuah anugerah. Anugerah, ketika hadir pada waktu yang sudah seharusnya. Bukan untuk menyerah, namun lebih kepada melepas untuk mengikhlaskan. Membebaskan hati ini agar tak terkekang oleh kebaikan dan kelebihan-kelenbihanmu yang selalu membiaskan pandangan ini. Terimakasih-sekali lagi. Atas kebahagiaan yang telah kau bagi. Walau hanya dengan melihatmu, mendengarmu melantunkan syair-syair indah. Itu sudah cukup bagiku. Dan kisah ini, akan berakhir disini. Saat Ini.
Ku buatkan kau sebuah rangkaian kata-sebagai penutup rasa. Dan selamat datang, kepada Ia yang sudah tergetar kembali dalam relung ini.
---------------------------
Hai!
Selamat datang di galaksi ku, Venus!
Semesta pasti tahu itu.
Walau ku tahu, kau tak akan pernah tau.

Sesuatu yang salah terjadi padaku.

Melekat pada jarin-jaring hati---hingga kini.
Bukankah mudah untuk mendiamkan dan membuat bisu sang waktu?
Aku sudah mencoba melakukannya.
Mempraktikkannya padamu.

Malang tak dapat dihindari, pada akhirnya.
Aku tak bisa menghilangkan itu. 
Menghilangkan ketidakraguanku-padamu.

Pada rasa yang terasa, tertata rapi dibalik malunya arteri kepada vena.
Aku toak merasakan kelelahan yang pasti.
Aku akan mencoba bertahan--hingga aku masih mampu mempertahankan itu.
Menampikmu, adalah sebuah kebohongan besar yang selalu kuhindari.

Satu hal,......
"Adakah diriku, singgah dihatimu?"
Tetapi, jika kau yang bertanya akan ku jawab dengan,
Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu.
Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu......

Hingga mengeras semua pembuluh ini.
Hingga nalar tak sanggup(lagi)membedakan logis dan rekaan.
Hingga-sebelum-lelah mendera hatiku,
Jawaban itu tetap untukmu.
Share:

Sabtu, 01 Agustus 2015

VIBRATION



4 Juni, 20:01 WIB.

Lupakan bahwa getar ini hidup.
Yang terus membelah seperti sel.
Ku ingin ia semu.
Tak terasa ataupun terjadi.
Hinggap pada diriku bukan berarti tak berkilah.
Cukupkan yang terjadi kemarin.
Agar membias dengan sendirinya.
Jauh dari pandangan, bukan artinya hilang pantauan.
Getar.
Mungkin kau tahu itu.
Vibrasi yang seketika membuat lidah ini kelu.
Kurasa ia bagai bom atom yang siap meluluh-lantakkan perangai jiwa ini.
Tak cukupkah semua?
Segala yang terjadi, bagai badai serotonin.
Damai ku dalam benaknya.
Getar.
Bergetarlah pada sewajarnya frekuensi.
Bila berlebih, takkan mampu periode membagimu.
Juga, tentang konstanta-konstanta rindu yang memenuhi jagat ini.
Cukup.
Tak mau aku merasakan lebih.
Nyaman bagiku, sudah cukup.
Share:

Jumat, 31 Juli 2015

Life is Journey: A Story of Sweety Girl



PMB UIN SGD Bandung - Jalur Mandiri 2015

Hallo...
Lama tak bersua nih. Aku sekarang mau berbagi sedikit kisah perjalan menggapai mimpi ku. Walau memang belum tercapai semua, tapi setahap demi setahap aku mulai meraihnya. Aku bakal mulai dari pertama kali aku ikut UM(Ujian Mandiri) sampai akhirnya aku sudah diterima jadi mahasiswa sekarang :)
Oke, kita mulai. Here we go.....
Saat kelulusan sekolah tahun lalu (Aku lulusan tahun 2014), aku sudah mempunyai beberapa planning ke depan yang harus aku raih. Kuliah jadi prioritas utama saat itu, dan memang selalu jadi the number one di To Do List - aku. Ketika di SD aku selalu ingin menjadi seorang Insinyur Pertanian. Bisa sekolah pertanian, rasanya cukup membanggakan sekali. Tak henti-hentinya aku berjuang dan berusaha sekeras mungkin, dari mulai belajar sampai mempertahankan nilai supaya tidak anjlok. Agar aku bisa menggapai semua impianku, aku memutuskan untuk mendaftar ke IPB. Ku pikir karena dengan kuliah disana itu akan selaras dengan apa yang menjadi tujuanku. Sebelum kelulusan, aku mengikuti SNMPTN yang pilihan pertama nya adalah Biologi-IPB dan THP-IPB. Alhamdulillah, hasilnya sesuai dengan apa yang Allaah telah rencanakan. Aku belum berhasil. Aku gagal masuk IPB lewat jalur itu. Sedih aku dibuatnya. Aku lupa bagaimana cara bersyukur saat itu. Aku lupa bahwa perjuangan ini masih panjang. Aku lupa bahwa Allaah selalu menitipkan kebahagiaan ditengah duka yang terasa.
Sebulan telah berlalu, jujur masih saja aku sedih karena terus menerus berpikir bahwa aku gagal. Akhirnya, Mama yang setiap hari melihatku bersedih hati pun berbicara. Ia berkata, aku harus mengikuti ujian mandiri. Aku harus percaya diri lagi. Aku harus semangat lagi. Alhasil, aku mendaftarkan diri lagi di IPB jalur UTM (Ujian Talenta Masuk) bobotnya sama seperti Jalur Mandiri. Aku ikuti alur hidupku saat itu. Berusaha keras, belajar lebih giat mengejar semua ketertingalan, dengan satu  harapan bulat yaitu aku ingin kuliah tahun ini. Saat UTM aku mengambil jurusan Kehutanan dan Fisika. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali ambil jurusan itu. Padahal sebenarnya, passion ku bukan disitu. Aku lebih condong ke Biologi-kenyataannya. Setelah beberapa minggu berlalu, saat pengumuman UTM hasil yang diterima pun tak kalah mencengangkan dari sebelumnya. Alhamdulillah lagi, lagi dan lagi. Aku belum diterima disana. Sedih sekali rasanya. Terlampau sedih. Kadang merasa diri ini terlalu bodoh.  Rasanya sudah berjuang mati-matian namun hasilnya tetap nihil. Nol besar. Astagfirullah. Sudah lupa bagaimana rasanya bersyukur, menerima semua hasil. Malah sibuk memaki diri dan menganggap bodoh juga tak mampu.
Akhirnya, ku putuskan setahun ini aku off dulu dari kegiatan belajar formal. Selama setahun ini, aku sibuk bertafakur, aku berusaha memperbaiki diri agar bisa menjadi manusia yang bisa menerima dengan hati yang lapang baik-buruknya kehidupan. Agar senantiasa dekat dengan Allaahh. Saat ketenangan itu mulai datang, ku dapati diriku sudah mulai percaya diri lagi. Tak ku sangka bahwa pertolongan Allaah begitu mudahnya, begitu dekatnya. Asalkan kita percaya bahwa Allaah selalu bersama dan membantu kita. Barulah aku begitu yakin, bahwa tahun ini aku yakin pasti bisa lolos. Bismillah, dengan keputusan yang sudah bulat, tanggal 4 Juni kemarin aku berangkat ke Bandung, aku berniat mendaftar sekolah lagi.
UIN SGD- disini lah perjuangan ku berlabuh. Dengan modal tekad yang kuat, juga restu Orang tua, aku mendaftar disini. Jurusan yang aku ambil untuk tes masuk adalah Biologi dan Pendidikan Biologi. Karena untuk tahun ini, aku akan berjuang sesuai dengan passion ku, bukan karena keinginan yang selewat saja. Aku daftar dihari kedua, dan itupun aku mendapat nomor yang ke 1420. Masya Allah, baru 2 hari sudah hampir seribu orang lebih yang daftar. Maka dari itu, aku harus lebih bersungguh-sungguh lagi. Saat tes, jujur saja aku yang nota bene lulusan dari SMA Negeri biasa yang gak ada basic agama nya(katakanlah) harus bisa menyelesaikan soal pengetahuan agama yang seabreg-yang ruar biasa susahnya-yang sulitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. HEHE. Ya, soal tersulit adalah soal BAHASA ARAB. Ya Allaah, ampunilah aku… Mudahkanlah segala urusan ku. Dengan segala daya upaya, aku lahap habis semua soal dengan hati yang berharap Allaah selalu membantuku. Tes hari pertama selesai, dan saatnya mempersiapkan tes hari berikutnya. APA?! Masih ada lagi????? Ya ada lah, namanya tes wawancara (cukup membuat jantung rasanya mau copot, saat sebelum di interview wehehehe).
Yapyapyap!!! Tes hari kedua DIMULAI. Tes wawancara ini membuat lidah ku kelu, sulit berucap, tubuh gemetar, panas dingin, keringetan yang berlebih, otak rasanya sulit berpikir dan edaaaaaaaaaaannnnnnnn…. Itu semua ga bener hehe. Tes nya asik kok, ga pake nunggu lama. Per ruangan tes dibagi 4 orang sekali masuk. Dan ditanyalah satu persatu calon mahasiswa itu. Tenang aja, materinya ga sulit kok. Asalkan kita masih inget pelajaran yang di SMA. Pelajaran agama tentunya. Karena materi tes nya juga seputar keagamaan. So? Don’t worry… Ada Allaah yang selalu membantu. Asalkan kita sebagai hambanya selalu percaya pada setiap ketentuannya. Juga, jangan pernah berhenti berdoa dan berharap. Eitsss, ridho orang tua juga penting loh.
Setelah menunggu selama dua minggu, dan hasilnya Alhamdulillah. Alhamdulillah yang ini, aku Lolos. Aku masuk dijurusan Biologi. Subhanallah ya, Allaah memang selalu memberikan yang terbaik buat kita. Mungkin emang jalan nya disini, ya jadi Allah permudahJ
Well…. Sudah deh, begitulah ceritanya.. semoga bisa memberikan warna baru bagi pembaca semuanya, barakallah... jazakallah


Share:

Kamis, 07 Mei 2015

Cerber: Red Velvet (Ku Sebut Ia Jingga yang me-Merah)

Pemeran :
·         Niken Rein (Rein)
·         Sayra Fakhiha (Aya)
·         Nabit Hudori (Nab)
·         Farish Razdafi (Ris)
·         Ryana Oline (Oline)
·         Alliya Manasikana (All)


#SEASON 1

            Niken Rein. Hari ini usianya bertambah. Tepat 16 tahun ia berpijak dibumi. Beratus-ratus hari ia lewati hidup ini bersama sang Ayah tercinta. Ayah sekaligus ibu baginya. Kasih sayang yang tercurah pun amatlah besar. Tak heran memang, meski tumbuh tanpa ditemani hadirnya seorang ibu, tak nampak perbedaan antara ia dan anak sebaya nya(read: kestabilan emosi).

            Di usianya kini, Rein beranjak memasuki babak baru dalam hidupnya. Tahun ini, pendidikan nya ditingkat menengah pertama telah selesai. Memasuki jenjang yang baru, Rein yang ditemani ayahnya mendaftar kesekolah menengah yang ia mau. Sebut saja, SMA Pelita Ilmu yang tak jauh dari rumahnya. Saat berada di jalan, Rein berpapasan dengan sahabat kecilnya-Aya. Aya pun akan mendaftar ke SMA Pelita Ilmu, ditemani ayah dan ibunya. 

            Dalam perjalanan menuju sekolah, Rein dan Aya pun berbincang-bincang. Sekedar membahas bagaimana perasaan mereka menghadapi lingkungan baru yang akan mereka jalani. Aya terlihat begitu antusias saat berkata pada Rein bahwa ia tidak sabar menanti saat-saat ini.
           
“Rein, aku deg-degan banget nih… gak sabar pengen cepet-cepet pake baju putih abu.” Ujar Aya kepada Rein.
            “Yaelah.. santai aja kali Ya! Belum juga apa-apa. Ospek aja belum disiapin.” Sahut Rein sekenanya.

            Rein memang dikenal sebagai anak yang terlalu-masa bodo- dan sekenanya. Tapi dibalik itu dia adalah anak yang Cerdas, terbukti sejak di Sekolah Dasar hingga sekarang predikat “JUARA UMUM” pun sering diraihnya, selain itu beberapa penghargaan non-akademis pun sering ia dapatkan. 

           Adapun Aya-sahabat kecilnya anak yang humble pun easy going dan sudah klop banget sama Rein ini, tidak begitu menonjol dalam hal pendidikan(baik akademis maupun non akademis). Namun, kelebihannya adalah dia memiliki kepekaan sosial yang tinggi, itulah mengapa sejak kecil Aya dan Rein sangatlah kompak. Mereka saling mengisi baik kurang atau lebih dari diri masing-masing.

            Setelah berbincang-bincang cukup lama, tibalah mereka bersama kedua orang tua nya disekolah. Aya dan Rein kemudian mohon pamit kepada orang tua nya untuk melihat sekeliling sekolah. Pun kedua orang tua mereka melanjutkan tujuannya, yaitu mendaftarkan anaknya agar bisa bersekolah disini. 

            Rein yang sudah mengenal seluk beluk SMA Pelita Ilmu ini mengajak Aya untuk melihat-lihat setiap sudut sekolah. Dari gerbang utama Rein lalu belok kesamping kiri dan turun melalui tangga untuk melihat keadaan Masjid. Kemudian, dari Masjid mereka lalu mengarahkan badan searah jarum jam, dimana arahnya tepat menuju Perpustakaan. 

            Setelah berada diperpustakaan, Rein dan Aya meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku. Karena secara kebetulan, hobby mereka sama; yakni membaca. Yang berbeda hanyalah dari genre buku yang dibaca. Rein lebih menyukai buku Non Fiksi sedangkan Aya lebih menyukai Novel juga Komik. 

            Di ruang perpustakaan dengan fasilitas yang memadai ini, setiap macam buku dipisah dengan rak-rak buku berpenyekat antara lorong yang satu dengan yang lainnya. Ya, tanpa bicara banyak, Rein meninggalkan Aya yang sedang asyik mencari Novel mencari buku yang ingin ia baca. 

            Di sudut ruangan paling ujung, disitulah tempat buku yang Rein cari, berlabelkan “Non Fiksi”. Melangkah lah kedua kakinya menuju sudut ruangan itu. Dilihat juga dicarinya beberapa buku yang menarik menurutnya yang akan ia baca. Ia lebih senang membaca buku Auto-biografi tokoh-tokoh dunia. Karena menurutnya, itu lebih bermanfaat ketimbang harus membaca cerita-cerita bualan para pujangga. 

            Diantara barisan buku-buku yang bertendeng rapi di dalam rak, terselip buku yang membuatnya penasaran hingga ingin membacanya. Buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang itu masih membuatnya penasaran, walau sebenarnya berkali-kali pula ia telah membacanya. 

            Saat ia ayunkan tangan nya untuk mengambil buku itu, tiba-tiba sekelebat tangan telah menyambarnya lebih dahulu. Ia pun terkejut, lalu menoleh kearah tangan yang memegang buku itu. Sepasang mata yang memperhatikannya lebih tajam daripada tatapannya, ia lalu bergegas pergi meninggalkan orang itu.

            Langkahnya kian cepat, sampai sebelum pintu keluar, ia tarik tangan Aya yang sedang asyik membaca itu. Dengan napas terengah-engah ia masih kaget dengan apa yang telah ia alami-barusan.

            Aya pun bertanya ada apa dengan Rein, mengapa dia seperti itu. Namun sayang, Rein pun tak menjawabnya. Aya pun mengerti, ia tak jadi melanjutkan pertanyaan lagi. Setelah keluar dari perpustakaan Aya menuntun langkah Rein menuju Kantor TU(disingkat;Tata Usaha). Disana kedua orang tua mereka sedang menyelesaikan administrasi untuk keperluan sekolah.
~~~~~~~~~~~
Lalu, siapa sebenarnya sosok yang dilihat Rein diperpustakaan itu?
Mengapa Rein terkejut melihatnya?
Apa yang akan dilakukan Aya untuk menghilangkan rasa penasaran nya?

Tunggu lanjutan ceritanya yaaaa^^
Share: