Kamis, 06 Juli 2017

Competitor; Who Cares, Who Alive



Sepagi ini, Aku sudah melangkahkan kaki menyusuri nadi kehidupan yang-masih- belum ku temukan. Terbiasa bertemu dengan jauhnya jarak yang hampir setiap saat melingkar di tubuh yang lunak ini. Lunak? Ya, tubuhku lunak, sangatlah lunak. Lunak yang ku maksud ialah tak memiliki kekuatan apapun untuk menjelma menjadi sosok yang keras (re; kuat/kokoh/berdaya) dan mampu membelot. Aku sebetulnya memerlukan segumpal keyakinan dan kekuatan untuk membelot. Membelot untuk apa? Membelot dari sekelumit alur kehidupan yang sudah separuhnya kulalui dalam hidup ini (jika ku perkirakan jatah umurku kurang dari satu abad di dunia ini). Seberapa rumit yang ku alami? Sebegitu besarkah rasa ingin tahu kalian? Apa memang harus ku ceritakan?. Percuma saja rasanya, jika aku bilang pada kalian. Ku tak ingin pada akhirnya kalian bilang “itu bukanlah sesuatu hal yang harus dianggap rumit; kau itu hanya bisa mengeluh”. Rumit ku ini bukan tentang hiruk pikuk maupun pragmatis-dilematis menempuh kehidupan. Rekam jejak ku mengenai ketirnya hidup sudah diakui oleh ratusan pasang mata yang menyaksikan ku selama ini. Rumit yang ku maksud adalah “bagaimana bisa ku berjalan lurus tanpa memikirkan diri ini sedang merindu”. Merinduku ini entah tertuju pada siapa. Ia yang fana tentu saja membuatku  bingung. Hadir dengan dua sisi yang berbeda. Yang satu menjadikan ku begitu memuja nya, satu lagi mengajarkanku memaknai kebahagiaan yang benar-benar membahagiakan. Perihal rindu yang kurasa, ini semacam tindak tanduk yang membelenggu hasrat-yang jika bersentuhan dengan jarak tidak ada kompromi lagi baginya dengan klimaks yang tak terbendung. Dengan kaki yang masih melangkah lurus mencari sang nadi, akan kuceritakan sosok itu satu persatu.
Ku akan menceritakan dari ia yang sering membuatku memujanya. Terhitung sejak hari dimana sang Maha membawa kita pada tempat yang sama, 309 hari sudah aku melewati ini sebagai “teman”-nya. Masih dalam keadaan yang sama, ku biarkan ia memenuhi jagad khayal ini sebagai competitor terberatku sejak dulu. Tentu, untuk berkata “aku baik-baik saja” tidaklah mudah. Semogaku yang terdengar oleh semesta ialah “Semoga setiap langkahku mendekatkan, bukan menjauhkan”. Jangan bertanya mengapa, setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak untuk diberi pertanyaan. Semesta lah yang mendorongnya agar tetap menjadi competitor bagiku supaya lebih semangat (lagi) dalam mencapai mega, walau asteroid-asteroid lebih sering menghampiri untuk menghujamku. Semogaku, ada padanya. Pusat semesta yang ku beri banyak semoga dalam setiap doa.
Sejauh ini aku hanya bisa berdoa tanpa bisa berusaha. Aku tahu, pada akhirnya ini akan menjadi suatu kesia-siaan belaka yang hanya akan membuang-buang waktuku saja. Mengapa demikian? Jawabannya sangatlah klise. Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tak bisa dipaksakan. Sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai sebuah takdir oleh Tuhan, maka tidak akan secara serta merta berubah begitu saja. Hal klise lain nya adalah, sesuatu yang tidak bisa dipaksakan itu adalah perihal hati. Hati yang mengagumi sosok manusia secara ragawi tanpa tahu resiko yang harus ditanggung kedepannya. Selama 309 hari ini, aku sudah menanggung beban itu sendirian. Beban menyukai-mengagumi-patah hati sekaligus dalam satu siklus. Mirisnya, aku mengalami itu tanpa pernah aku berkomunikasi langsung dengan nya. Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa bisa aku mengalami ini? Mengapa bisa aku melewati semua dengan persepsiku sendiri? Mengapa dan mengapa lain nya terus menggelayuti pikiranku.
Selama 309 hari ini aku hidup dengan rasa kagum dan persepsi tentangnya hanya dari sudut pandang ku saja. Setiap hari nya, tak lepas dari mataku tanpa memperhatikan dia. Tak luput dari pengawasanku dari segala tingkah lakunya. Di mulai dari hal-hal kecil yang ia lakukan. Seperti saat dia membuat Mading (Majalah Dinding) atau saat menaruh informasi yang ada dalam secarik kertas dan menggantungkannya pada tali dengan menggunakan penjepit kertas. Hal-hal itu yang selalu menjelma dalam pikiran ini sehingga membentuk persepsi yang berlebih. Semisal; “Dia itu segalanya banget, pokoknya paket komplit deh. Cowok tercakep, terpintar, tersegalanya”. Semua itu dinilai dari sudut pandangku saja, 180 derajat berbeda dari kenyataan dilapangan. Sesungguhnya dia adalah sosok yang paling hebat dalam mengacuhkan seseorang, termasuk aku. Sekalipun aku tahu begitu, tetapi aku sanggup bertahan dengan egoku terhadapnya ini selama ratusan hari. Memang terlihat benar-benar terlihat sepele saja perkara ini.
Lalu, kenapa aku bilang semua ini rumit? Oke, jadi begini. Rumit yang pertama, aku tak bisa lepas maupun melepaskan diriku yang sudah terikat pada sosoknya. Rumit yang kedua, aku tak bisa menolak hatiku ku bahwa-disisi lain, ada seseorang yang tanpa lelah mengajarkanku cara memaknai kebahagian dengan sebenar-benarnya. Disini, ku akan mulai memasukkan ia (sosok kedua) dalam kisah ini. Ia mulai hadir dalam kondisi ku yang belum 100% terlepas dari ia (sosok pertama). Namun, adanya ia mampu meluluh-lantakkan segala benteng persepsi ku mengenai “jatuh cinta” yang dirasa tak wajar baginya. Menurutnya, cara ku dalam menghadapi jatuh cinta tidak lah seperti kebanyakan orang. Aku hanya mengungkung diriku akan sesosok orang yang baik-dimataku hingga merasa pantas untuk dikagumi sampai menaruh harapan berlebih pada sosok itu. Ia (sosok kedua) memulai sesuatunya dengan rapi. Pun aku tahu, ia (pasti) hanya menganggapku sebagai teman. Seiring berjalannya waktu, ku mulai menyadari satu hal. Rasa Peduli. Hal tersebut yang sering ia perlihatkan padaku juga kepada teman-teman nya yang lain. Rasa peduli nya begitu tulus, tanpa pamrih. Sedikit pun ia tak pernah pandang bulu dalam hal menolong. Sekali pun yang dia bantu (tolong) adalah rival atau orang yang sering menjatuhkan nya, ketulusan akan kebaikan hatinya tak dapat tertutupi. Aku sering melihat itu, maupun mendengar dari teman-teman nya yang lain. Sikap pedulinya itu yang mengoyakkan persepsiku bahwa ada sosok lain yang jauh dari kata sempurna tetapi ia bisa menyempurnakan.
Kepeduliannya itu semakin hari menorehkan dercak kagum pada hati ku, terlebih dalam pikiranku. Semakin hari semakin tak kutemukan cacat pada sikapnya terhadapku. Kadang ku berpikir, tidak akan berhasil dua orang insan berlainan jenis bertahan lama dengan status berteman; jika setiap harinya sering bertemu, bertegur sapa bahkan sampai bertukar pikiran. Hal semacam itu yang menjadi krusial ketika hasrat untuk mengagumi akan naik level pada yang lebih complicated, yaitu jatuh cinta. Terkadang, akal sehat pun mampu mengalahkan perihal yang terasa oleh hati. Akal sehat mampu menegur hati yang sudah terbutakan oleh segalanya. Contohnya saja, aku. Aku yang dulu se-begitu tak bisa lepasnya pada ia (sosok pertama), sedari ini saat aku bertemu dengannya (sosok kedua), ego-ku mampu diredam. Aku mulai bisa menilai segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, tak hanya menurut pandanganku saja, Aku mulai bisa menakar sesuatu dengan-seperlunya saja- tanpa harus berlebihan lagi. Aku mulai bisa memandang setiap orang itu dianugerahi kekurangan beserta kelebihannya masing-masing, dan tak akan sama. Semua itu ku dapat dari ia yang mampu mengajarkan semua hal melalu rasa peduli nya. Rasa peduli itu ia ungkap tidak melalui lisan. Ia perlihatkan melalui setiap gerak gerik pada kesehariannya. Dan disadari atau tidak, sepertinya aku mulai jatuh hati tanpa diketahui pasti kapan.
Rumit ini belum selesai sampai disini. Aku butuh kekuatan untuk membelot. Membelot dari keadaan yang sudah sejauh ini ku alami. Pun disini aku merasa dilematis sekali. Aku mulai bisa melepas satu competitor ku dan menerima competitor ku yang baru. Namun, aku takut. Ketakutan ini bukan lah sesuatu yang tidak beralasan. Aku hanya takut ia (sosok kedua) memandangku sebagai gadis yang labil. Aku takut ia menganggap rasa yang mulai terasa ini hanyalah ilusi ditengah keadaanku yang sebelah tangan ini.
Matahari sudah berada diatas kepalaku. Itu artinya sudah sekian lama aku menyusuri jalanan yang tak berujung ini. Tak terasa seraya ku bercerita, tadi selama dipersinggahan aku menulis beberapa bait kata. Ini ku buat untuk ia yang bersedia-peduli-tanpa pernah meminta balasan. Untuk ia yang bersedia mendekat disaat ku berusaha menjauh. Untuk ia yang terus-menerus memahami tanpa ku mau mengerti. Untuk ia yang selalu ada walau aku menghindar. Untuk ia yang kini sudah ku pilih menjadi semestaKu. Untuk ia yang selalu ku semogakan disetiap doaku. Untuk ia yang selama ini menjadi penyejuk jiwa. Untuk ia yang bersedia bertahan atas segala minusnya aku. Dan untuk ia yang kurahapkan bisa bersamaku hingga akhir nanti. Semoga pada akhirnya, semesta berpihak padaku. Semesta bisa mengizinkan ku bersama dengan ia, semestaKu kini.
Teruntuk kau, duhai …..
 Hai, SemestaKu!
Kini ku dapat memanggilmu dengan sebutan itu tanpa ragu.
Kini ku dapat utarakan apapun tentang semestaku kepada khalayak ramai.
Kini ku leluasa untuk mengekspresikan semuanya.
Terima Kasih,
Untuk semua permulaan yang tidak disengaja.
Untuk sebuah pertemuan yang diluar dugaan.
Untuk setiap hal yang terlalui tanpa pernah terencana, begitu berkesan.
Kita sekarang, dahulunya pernah bertemu pada satu titik yang sama. 
Mengedar pada lintasan orbit yang sama.
Hingga di suatu ketika, garis waktu mempertemukan kita.


Share: