Jumat, 29 Januari 2016

Asa

Ada beberapa definisi dalam hidup yang tak mampu ku utarakan.
Ada beberapa premis tentang asa yang memunculkan semangat.
Ada pula contoh dari kehidupan yang mendekat pada wujudnya.

Aku belum tahu pasti tentang skenario yang sedang berjalan ini.
Aku belum ingat lagi kapan terakhir kali mensyukuri semua yang ada.
Aku belum begitu memahami mengapa lalai dengan mudahnya hinggap pada jiwa ini.

Keluhan yang selama ini terucap, membuat malu perangaiku.
Kiasan setiap permasalahan ditata dengan begitu apiknya,
Sedang hati ini sibuk untuk menampiknya.

Gelisah itu telah berakar menjadi sikap acuh,
yang hampir saja termakan oleh buruknya pikiran.
Rasa malas akan kebenaran yang ada,
seakan mempercepat busuknya hati yang telah terlindungi.

Perlu beberapa saat agar bisa pulih kembali.
Perlu ke ikhlasan hati agar dapat kembali.
Share:

Titik Pandang

Pandang semu bagai kilatan warna
Terbiaskan sinar antara khayal dan nyata
Kilau mu pasti
Wujud mu saru


Tak berkilah pada satu sisi
Terdiam di titik terendah asa
Hina hingga tak mengerti
Terperosok dalam kedukaan jiwa


Ku bilang…. Ku rindu
Ku bilang…. Ku lelah
Ku bilang…. Ku bosan dengan kebahagiaan imaji
Yang ku persepsikan sendiri


Sosok yang mengharu biru,
Dalam hati ini
Menimbulkan beberapa premis-premis baru 
Nyata dalam pandang
Kaku pada hati


Hingga….
Rantai-rantai jingga itu melepas semua angan
Angan yang selalu menampik
Bibir yang terus berkata
Akal yang tak akan pernah bertautan
Dalam hidup yang menyejukan jiwa

Share:

Setidaknya

Sederhana saja bagiku.
Simpul ini nantinya akan mengikat.
Pada anganku kini dan semua yang lalu.

Simpul ini yang selalu siaga dalam menetapkan setiap keputusan,
dan setia menemaniku dalam setiap kesakitan yang indah itu.
Tujuan ku memperjuangkan adalah agar dia mengetahui dan mau mengakui keberadaan ku.

Selebihnya?
Aku memang tak berharap banyak.
Aku tak bisa memaksakan dia untuk menerima partitur hati dari ritme yang sudah berpadu untuknya. Pun aku tak bisa memaksa keadaan agar berbalik mendukung ku-berbelas kasihan terhadapku agar bahagia dapat kurasakan.

Bila ku memaksanya agar menerima setiap nada ku,
yang ku takutkan hanya satu hal....

Dia hanya mencintaiku seperlunya, sedang aku mencintaimu sepenuhnya.
Tak mau aku mengambil resiko yang akan mengurangi jatah bahagia ku dalam merindu.
Aku hanya menyusunnya agar bisa mengambil langkah yang pasti,
sekalipun meleset dari perkiraan itu takkan sepenuhnya menjadi tak terkendali,
setidaknya prediksiku akan rasa sakit-sejauh ini dapat menegarkan jiwaku.
Share:

Monolog Diri

Hi, Competitor!
Selamat pagi, selamat datang pada masa-ku ini.
Kau yang sudah terperangkap, yang tak mampu terbiaskan.
Sekalipun kau selalu membuat  momentum sebagai jurus terakhirmu.
Kau bisa apa? Tenggelam? Atau merangkak naik?
Bahkan... untuk  meraih ku saja kau tak mampu.
Lalu, akan kau kemana-kan momentum-momentum itu?
Dibuat simpul agar bisa terpilin menyatu dengan arteri-vena ku?
Atau dibuat rangkaian pararel getar yang terkontrol dengan baik?
Kau salah, bagiku kau terlalu naif.
Kau tahu?
Untuk sebuah momentum yang pernah terjadi, kau hanya bisa merasakan keberadaan nya sekali saja.
Masa -ku saat ini adalah melenyapkan mu.
Periode mu membuat kacau dinamika hati ini.
Telah terbagi kepada beberapa frekuensi kah?
Lucu, memang.
Tak setara dengan kolase ku yang selalu merangkai wujudmu.
Angin segar yang datang membawa kesegaran, hanya membentuk oase-oase indah yang sejatinya adalah fatamorgana hati.
Semua itu kau bentuk, agar membiaskan pandang ku terhadapmu.
Mari, akhiri ini.
Berjuang pada hal yang selalu menganggap keberadaanku sebagai parasit obligat-nya, takkan membuat bahagia jiwaku.
Ku lepas kau, competitor-ku!
Selamat tinggal, Usah kau kembali.
Share: