Kamis, 18 Januari 2018

JURNAL 2018: WAJAH BARU BAKSO KABAYAN AT UJUNG BERUNG

Credit by @jengsya
       Hi guyssss!!! Sudah lama ku tak bersua dan akhirnya ku kembali, hehe. Gak akan terlalu banyak curhat sih di sesi ini, lebih banyak mau review makanan (tumben banget wkwk). Sebelum panjang lebar nih, mau tanya perihal what's on your mind ketika kalian ngedenger kata makanan. So, hal pertama kali yang kalian bayangin saat kalian denger kata BAKSO, apa sih? ๐Ÿ˜€


Credit by @jengsya
       Pasti ada yang bilang bulat, daging, lemak (of course), mie (sebagai pelengkapnya), dan tentu masih banyak lagi. Lalu, buat kalian nih terutama pecinta BAKSO, bakso yang enak tuh yang kayak gimana sih? Atau ada faktor lain yang memengaruhi selain dari cita rasa bakso itu sendiri? Nah, disini ku mau sedikit nge-review salah satu tempat jajan bakso yang menurutku recommended banget buat dicoba. Yuk, disimak!

Tampak depan Bakso Kabayan
      Tempat jajan ini diberi nama BAKSO KABAYAN dengan tagline Kualitas Jeung Rasana Juara. Bakso Kabayan ini berada di Jalan Kaum Kaler, No.29A, Ujung Berung, Bandung. Lebih tepatnya, tempat jajan ini terletak di sekitar Alun-alun Ujung Berung. Lokasi detailnya terletak di belakang Mesjid Agung Ujung Berung, disamping Apotek K 24. 
 
Grand Launching 2018

        Di tahun 2018 ini ada terobosan baru yang dibuat oleh Bakso Kabayan. Terobosan tersebut berupa berbagai tambahan menu baru dan pembaruan fasilitas. Ini nih yang perlu digaris bawahi, selain kualitas dari makanan, fasilitas juga menjadi hal terpenting sebagai suatu daya tarik pendukung. Pembaruan yang terlihat kontras yaitu dari segi design interiornya. Benar-benar wajah baruuuuu, bikin betah deh buat jajan disini๐Ÿ˜€. Untuk tempat makan, terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 dan 2 berfungsi sebagai tempat santap saji. Pada saat masuk, kalian akan menemui bagian kasir dan dapur nya berada di samping kanan (tampak dari depan). Yang perlu kalian lakukan sebelum santap saji adalah memesan makanan. Pemesanan dan pembayaran dilakukan diwaktu yang bersamaan sembari memilih tempat. Para pelanggan dibebaskan memilih posisi santap sesuai dengan keinginan mereka. Service yang diberikan pun tak kalah bagusnya! Saat pembeli memesan, penawaran menu pun dilakukan secara ramah dengan penuturan yang runut. 


Daftar Menu
        Menu yang ditawarkan tidak hanya seputar bakso saja. Ada berbagai jenis rekan-rekan dari bakso, seperti Mie Ayam, Mie kocok, Yamin, Batagor dan Pempek. Harga-harga makanan tersebut berkisar mulai dari 13K-30K perporsinya. Pada Grand Launching ini, Bakso Kabayan menambah beberapa menu baru yang juga menjadi menu andalannya. Menu baru tersebut yaitu Bakso Teriyaki, Bakso Yakiniku, Baso Asam Manis, Baso Bakar, Pisang Nugget dan Mango Dessert. Selain menyediakan makanan, juga tersedia berbagai macam minuman sebagai pendampingnya (tapi bukan pendamping hidup ya ๐Ÿ˜€). Aneka Jus buah, Cappucino Ice all variant, Milkshake, Yoghurt, Salad buah, Sop buah, Es Campur, Es Kelapa, Teh manis, Kopi juga air mineral. Untuk harga minuman, di bandroll dengan kisaran harga 4K-15K perporsinya. Dari sekian banyak menu, ku punya beberapa menu andalan yang selalu dipesan kala berkunjung kesini. Menu andalan tersebut adalah Mie ayam ceker, Mie Ayam Rudal dan Bakso Cincang pedas. Overall, semua makanan disini JUARA!!!


          Menyinggung soal desain interior seperti yang sudah saya katakan, tempat ini memiliki dua lantai sebagai tempat santap saji. Lantai satu dipenuhi dengan beberapa kursi santai sebagai tempat bersantai sejenak. Dibawah ini merupakan tampak bagian dalam dari lantai 1.
Spot Lantai 1
Spot Lantai 1
Spot Lantai 1
Spot Lantai 1


Bilah kanan pada spot lantai 1



     Disamping spot untuk tempat makan, pada bilah kanan terdapat ruang khusus kasir dan juga sebagai dapur tempat pengolahan makanan. Disini, pembeli diberikan kertas pesanan berupa daftar menu untuk kemudian diisi. Setelah dilakukan proses pemesanan, pembayaran langsung dilakukan ditempat (oleh kasir). Nah, sekarang giliran kita lihat bagaimana sih tampak bagian dalam dari lantai 2. 


Spot Luar Lantai 2
      Gambar diatas merupakan cuplikan dari spot lantai 2. Disini disuguhkan dengan pemandangan langsung kearah luar yang menghadap pada Mesjid Agung Ujung Berung dan Alun-alun Ujung berung.  Dilantai 2 ini terdapat dua spot yang terpisah yakni spot bagian dalam dan luar. Pada spot bagian dalam selain meja saji dilengkapi juga dengan toilet dan mushola. Pada bagian dalam ini, dibuat se-comfy mungkin sehingga pembeli/pengunjung akan merasa ingin berada lebih lama ditempat ini (read: betah). 

Spot dalam lantai 2
Spot dalam lantai 2
 Yang tadi itu sekilas mengenai spot tempat yang ada di Bakso Kabayan ini. Sekarang kita bahas mengenai makanan. Untuk makanan sendiri, menu yang dipesan hari ini yaitu Mie Ayam Ceker, Mie Ayam Rudal dan Es Kelapa jeruk. Kebetulan banget emang lagi pengen makan mie ayam, jadi gak pesan bakso nya dulu๐Ÿ˜€

Mie Ayam Ceker + Es Kelapa

Mie Ayam Ceker (zoom in)

Mie Ayam Rudal (zoom in)
Mie Ayam Rudal



Sekian review singkat tentang Bakso Kabayan yang sekarang bener-bener udah Wajah Baruuuu๐Ÿ˜€ Jika ada masukan atau rekomendasi tempat makan yang enak-enak lainnya, bisa tulis dikolom komentar atau kontak profil di bio! Thankyouuuu!!



Share:

Kamis, 06 Juli 2017

Competitor; Who Cares, Who Alive



Sepagi ini, Aku sudah melangkahkan kaki menyusuri nadi kehidupan yang-masih- belum ku temukan. Terbiasa bertemu dengan jauhnya jarak yang hampir setiap saat melingkar di tubuh yang lunak ini. Lunak? Ya, tubuhku lunak, sangatlah lunak. Lunak yang ku maksud ialah tak memiliki kekuatan apapun untuk menjelma menjadi sosok yang keras (re; kuat/kokoh/berdaya) dan mampu membelot. Aku sebetulnya memerlukan segumpal keyakinan dan kekuatan untuk membelot. Membelot untuk apa? Membelot dari sekelumit alur kehidupan yang sudah separuhnya kulalui dalam hidup ini (jika ku perkirakan jatah umurku kurang dari satu abad di dunia ini). Seberapa rumit yang ku alami? Sebegitu besarkah rasa ingin tahu kalian? Apa memang harus ku ceritakan?. Percuma saja rasanya, jika aku bilang pada kalian. Ku tak ingin pada akhirnya kalian bilang “itu bukanlah sesuatu hal yang harus dianggap rumit; kau itu hanya bisa mengeluh”. Rumit ku ini bukan tentang hiruk pikuk maupun pragmatis-dilematis menempuh kehidupan. Rekam jejak ku mengenai ketirnya hidup sudah diakui oleh ratusan pasang mata yang menyaksikan ku selama ini. Rumit yang ku maksud adalah “bagaimana bisa ku berjalan lurus tanpa memikirkan diri ini sedang merindu”. Merinduku ini entah tertuju pada siapa. Ia yang fana tentu saja membuatku  bingung. Hadir dengan dua sisi yang berbeda. Yang satu menjadikan ku begitu memuja nya, satu lagi mengajarkanku memaknai kebahagiaan yang benar-benar membahagiakan. Perihal rindu yang kurasa, ini semacam tindak tanduk yang membelenggu hasrat-yang jika bersentuhan dengan jarak tidak ada kompromi lagi baginya dengan klimaks yang tak terbendung. Dengan kaki yang masih melangkah lurus mencari sang nadi, akan kuceritakan sosok itu satu persatu.
Ku akan menceritakan dari ia yang sering membuatku memujanya. Terhitung sejak hari dimana sang Maha membawa kita pada tempat yang sama, 309 hari sudah aku melewati ini sebagai “teman”-nya. Masih dalam keadaan yang sama, ku biarkan ia memenuhi jagad khayal ini sebagai competitor terberatku sejak dulu. Tentu, untuk berkata “aku baik-baik saja” tidaklah mudah. Semogaku yang terdengar oleh semesta ialah “Semoga setiap langkahku mendekatkan, bukan menjauhkan”. Jangan bertanya mengapa, setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak untuk diberi pertanyaan. Semesta lah yang mendorongnya agar tetap menjadi competitor bagiku supaya lebih semangat (lagi) dalam mencapai mega, walau asteroid-asteroid lebih sering menghampiri untuk menghujamku. Semogaku, ada padanya. Pusat semesta yang ku beri banyak semoga dalam setiap doa.
Sejauh ini aku hanya bisa berdoa tanpa bisa berusaha. Aku tahu, pada akhirnya ini akan menjadi suatu kesia-siaan belaka yang hanya akan membuang-buang waktuku saja. Mengapa demikian? Jawabannya sangatlah klise. Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tak bisa dipaksakan. Sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai sebuah takdir oleh Tuhan, maka tidak akan secara serta merta berubah begitu saja. Hal klise lain nya adalah, sesuatu yang tidak bisa dipaksakan itu adalah perihal hati. Hati yang mengagumi sosok manusia secara ragawi tanpa tahu resiko yang harus ditanggung kedepannya. Selama 309 hari ini, aku sudah menanggung beban itu sendirian. Beban menyukai-mengagumi-patah hati sekaligus dalam satu siklus. Mirisnya, aku mengalami itu tanpa pernah aku berkomunikasi langsung dengan nya. Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa bisa aku mengalami ini? Mengapa bisa aku melewati semua dengan persepsiku sendiri? Mengapa dan mengapa lain nya terus menggelayuti pikiranku.
Selama 309 hari ini aku hidup dengan rasa kagum dan persepsi tentangnya hanya dari sudut pandang ku saja. Setiap hari nya, tak lepas dari mataku tanpa memperhatikan dia. Tak luput dari pengawasanku dari segala tingkah lakunya. Di mulai dari hal-hal kecil yang ia lakukan. Seperti saat dia membuat Mading (Majalah Dinding) atau saat menaruh informasi yang ada dalam secarik kertas dan menggantungkannya pada tali dengan menggunakan penjepit kertas. Hal-hal itu yang selalu menjelma dalam pikiran ini sehingga membentuk persepsi yang berlebih. Semisal; “Dia itu segalanya banget, pokoknya paket komplit deh. Cowok tercakep, terpintar, tersegalanya”. Semua itu dinilai dari sudut pandangku saja, 180 derajat berbeda dari kenyataan dilapangan. Sesungguhnya dia adalah sosok yang paling hebat dalam mengacuhkan seseorang, termasuk aku. Sekalipun aku tahu begitu, tetapi aku sanggup bertahan dengan egoku terhadapnya ini selama ratusan hari. Memang terlihat benar-benar terlihat sepele saja perkara ini.
Lalu, kenapa aku bilang semua ini rumit? Oke, jadi begini. Rumit yang pertama, aku tak bisa lepas maupun melepaskan diriku yang sudah terikat pada sosoknya. Rumit yang kedua, aku tak bisa menolak hatiku ku bahwa-disisi lain, ada seseorang yang tanpa lelah mengajarkanku cara memaknai kebahagian dengan sebenar-benarnya. Disini, ku akan mulai memasukkan ia (sosok kedua) dalam kisah ini. Ia mulai hadir dalam kondisi ku yang belum 100% terlepas dari ia (sosok pertama). Namun, adanya ia mampu meluluh-lantakkan segala benteng persepsi ku mengenai “jatuh cinta” yang dirasa tak wajar baginya. Menurutnya, cara ku dalam menghadapi jatuh cinta tidak lah seperti kebanyakan orang. Aku hanya mengungkung diriku akan sesosok orang yang baik-dimataku hingga merasa pantas untuk dikagumi sampai menaruh harapan berlebih pada sosok itu. Ia (sosok kedua) memulai sesuatunya dengan rapi. Pun aku tahu, ia (pasti) hanya menganggapku sebagai teman. Seiring berjalannya waktu, ku mulai menyadari satu hal. Rasa Peduli. Hal tersebut yang sering ia perlihatkan padaku juga kepada teman-teman nya yang lain. Rasa peduli nya begitu tulus, tanpa pamrih. Sedikit pun ia tak pernah pandang bulu dalam hal menolong. Sekali pun yang dia bantu (tolong) adalah rival atau orang yang sering menjatuhkan nya, ketulusan akan kebaikan hatinya tak dapat tertutupi. Aku sering melihat itu, maupun mendengar dari teman-teman nya yang lain. Sikap pedulinya itu yang mengoyakkan persepsiku bahwa ada sosok lain yang jauh dari kata sempurna tetapi ia bisa menyempurnakan.
Kepeduliannya itu semakin hari menorehkan dercak kagum pada hati ku, terlebih dalam pikiranku. Semakin hari semakin tak kutemukan cacat pada sikapnya terhadapku. Kadang ku berpikir, tidak akan berhasil dua orang insan berlainan jenis bertahan lama dengan status berteman; jika setiap harinya sering bertemu, bertegur sapa bahkan sampai bertukar pikiran. Hal semacam itu yang menjadi krusial ketika hasrat untuk mengagumi akan naik level pada yang lebih complicated, yaitu jatuh cinta. Terkadang, akal sehat pun mampu mengalahkan perihal yang terasa oleh hati. Akal sehat mampu menegur hati yang sudah terbutakan oleh segalanya. Contohnya saja, aku. Aku yang dulu se-begitu tak bisa lepasnya pada ia (sosok pertama), sedari ini saat aku bertemu dengannya (sosok kedua), ego-ku mampu diredam. Aku mulai bisa menilai segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, tak hanya menurut pandanganku saja, Aku mulai bisa menakar sesuatu dengan-seperlunya saja- tanpa harus berlebihan lagi. Aku mulai bisa memandang setiap orang itu dianugerahi kekurangan beserta kelebihannya masing-masing, dan tak akan sama. Semua itu ku dapat dari ia yang mampu mengajarkan semua hal melalu rasa peduli nya. Rasa peduli itu ia ungkap tidak melalui lisan. Ia perlihatkan melalui setiap gerak gerik pada kesehariannya. Dan disadari atau tidak, sepertinya aku mulai jatuh hati tanpa diketahui pasti kapan.
Rumit ini belum selesai sampai disini. Aku butuh kekuatan untuk membelot. Membelot dari keadaan yang sudah sejauh ini ku alami. Pun disini aku merasa dilematis sekali. Aku mulai bisa melepas satu competitor ku dan menerima competitor ku yang baru. Namun, aku takut. Ketakutan ini bukan lah sesuatu yang tidak beralasan. Aku hanya takut ia (sosok kedua) memandangku sebagai gadis yang labil. Aku takut ia menganggap rasa yang mulai terasa ini hanyalah ilusi ditengah keadaanku yang sebelah tangan ini.
Matahari sudah berada diatas kepalaku. Itu artinya sudah sekian lama aku menyusuri jalanan yang tak berujung ini. Tak terasa seraya ku bercerita, tadi selama dipersinggahan aku menulis beberapa bait kata. Ini ku buat untuk ia yang bersedia-peduli-tanpa pernah meminta balasan. Untuk ia yang bersedia mendekat disaat ku berusaha menjauh. Untuk ia yang terus-menerus memahami tanpa ku mau mengerti. Untuk ia yang selalu ada walau aku menghindar. Untuk ia yang kini sudah ku pilih menjadi semestaKu. Untuk ia yang selalu ku semogakan disetiap doaku. Untuk ia yang selama ini menjadi penyejuk jiwa. Untuk ia yang bersedia bertahan atas segala minusnya aku. Dan untuk ia yang kurahapkan bisa bersamaku hingga akhir nanti. Semoga pada akhirnya, semesta berpihak padaku. Semesta bisa mengizinkan ku bersama dengan ia, semestaKu kini.
Teruntuk kau, duhai …..
 Hai, SemestaKu!
Kini ku dapat memanggilmu dengan sebutan itu tanpa ragu.
Kini ku dapat utarakan apapun tentang semestaku kepada khalayak ramai.
Kini ku leluasa untuk mengekspresikan semuanya.
Terima Kasih,
Untuk semua permulaan yang tidak disengaja.
Untuk sebuah pertemuan yang diluar dugaan.
Untuk setiap hal yang terlalui tanpa pernah terencana, begitu berkesan.
Kita sekarang, dahulunya pernah bertemu pada satu titik yang sama. 
Mengedar pada lintasan orbit yang sama.
Hingga di suatu ketika, garis waktu mempertemukan kita.


Share:

Jumat, 29 Januari 2016

Asa

Ada beberapa definisi dalam hidup yang tak mampu ku utarakan.
Ada beberapa premis tentang asa yang memunculkan semangat.
Ada pula contoh dari kehidupan yang mendekat pada wujudnya.

Aku belum tahu pasti tentang skenario yang sedang berjalan ini.
Aku belum ingat lagi kapan terakhir kali mensyukuri semua yang ada.
Aku belum begitu memahami mengapa lalai dengan mudahnya hinggap pada jiwa ini.

Keluhan yang selama ini terucap, membuat malu perangaiku.
Kiasan setiap permasalahan ditata dengan begitu apiknya,
Sedang hati ini sibuk untuk menampiknya.

Gelisah itu telah berakar menjadi sikap acuh,
yang hampir saja termakan oleh buruknya pikiran.
Rasa malas akan kebenaran yang ada,
seakan mempercepat busuknya hati yang telah terlindungi.

Perlu beberapa saat agar bisa pulih kembali.
Perlu ke ikhlasan hati agar dapat kembali.
Share:

Titik Pandang

Pandang semu bagai kilatan warna
Terbiaskan sinar antara khayal dan nyata
Kilau mu pasti
Wujud mu saru


Tak berkilah pada satu sisi
Terdiam di titik terendah asa
Hina hingga tak mengerti
Terperosok dalam kedukaan jiwa


Ku bilang…. Ku rindu
Ku bilang…. Ku lelah
Ku bilang…. Ku bosan dengan kebahagiaan imaji
Yang ku persepsikan sendiri


Sosok yang mengharu biru,
Dalam hati ini
Menimbulkan beberapa premis-premis baru 
Nyata dalam pandang
Kaku pada hati


Hingga….
Rantai-rantai jingga itu melepas semua angan
Angan yang selalu menampik
Bibir yang terus berkata
Akal yang tak akan pernah bertautan
Dalam hidup yang menyejukan jiwa

Share:

Setidaknya

Sederhana saja bagiku.
Simpul ini nantinya akan mengikat.
Pada anganku kini dan semua yang lalu.

Simpul ini yang selalu siaga dalam menetapkan setiap keputusan,
dan setia menemaniku dalam setiap kesakitan yang indah itu.
Tujuan ku memperjuangkan adalah agar dia mengetahui dan mau mengakui keberadaan ku.

Selebihnya?
Aku memang tak berharap banyak.
Aku tak bisa memaksakan dia untuk menerima partitur hati dari ritme yang sudah berpadu untuknya. Pun aku tak bisa memaksa keadaan agar berbalik mendukung ku-berbelas kasihan terhadapku agar bahagia dapat kurasakan.

Bila ku memaksanya agar menerima setiap nada ku,
yang ku takutkan hanya satu hal....

Dia hanya mencintaiku seperlunya, sedang aku mencintaimu sepenuhnya.
Tak mau aku mengambil resiko yang akan mengurangi jatah bahagia ku dalam merindu.
Aku hanya menyusunnya agar bisa mengambil langkah yang pasti,
sekalipun meleset dari perkiraan itu takkan sepenuhnya menjadi tak terkendali,
setidaknya prediksiku akan rasa sakit-sejauh ini dapat menegarkan jiwaku.
Share:

Monolog Diri

Hi, Competitor!
Selamat pagi, selamat datang pada masa-ku ini.
Kau yang sudah terperangkap, yang tak mampu terbiaskan.
Sekalipun kau selalu membuat  momentum sebagai jurus terakhirmu.
Kau bisa apa? Tenggelam? Atau merangkak naik?
Bahkan... untuk  meraih ku saja kau tak mampu.
Lalu, akan kau kemana-kan momentum-momentum itu?
Dibuat simpul agar bisa terpilin menyatu dengan arteri-vena ku?
Atau dibuat rangkaian pararel getar yang terkontrol dengan baik?
Kau salah, bagiku kau terlalu naif.
Kau tahu?
Untuk sebuah momentum yang pernah terjadi, kau hanya bisa merasakan keberadaan nya sekali saja.
Masa -ku saat ini adalah melenyapkan mu.
Periode mu membuat kacau dinamika hati ini.
Telah terbagi kepada beberapa frekuensi kah?
Lucu, memang.
Tak setara dengan kolase ku yang selalu merangkai wujudmu.
Angin segar yang datang membawa kesegaran, hanya membentuk oase-oase indah yang sejatinya adalah fatamorgana hati.
Semua itu kau bentuk, agar membiaskan pandang ku terhadapmu.
Mari, akhiri ini.
Berjuang pada hal yang selalu menganggap keberadaanku sebagai parasit obligat-nya, takkan membuat bahagia jiwaku.
Ku lepas kau, competitor-ku!
Selamat tinggal, Usah kau kembali.
Share:

Senin, 28 Desember 2015

Untitled



Ku tulis ini pada kesekian malam dibulan Desember yang mengharu biru ini. Ku tuliskan prolog diri untuk menutup rasa yang sekian lama telah terpilin dan terikat rapi diantara alveolus-alveolus dalam tubuh. Terima kasih, kuucapkan. Pada Ia yang sudah memberitahuku sebuah lagu-Untitled. Lewat lagu ini aku telah melewati beberapa fase. Fase dalam memahami, mencoba untuk mengerti, dan tahu untuk memposisikan diri. Belum ku putuskan, akankah berlanjut ataukah berakhir. Diam ku pun tak menyelesaikan masalah. Sebuah rasa hadir tentunya menjadi sebuah anugerah. Anugerah, ketika hadir pada waktu yang sudah seharusnya. Bukan untuk menyerah, namun lebih kepada melepas untuk mengikhlaskan. Membebaskan hati ini agar tak terkekang oleh kebaikan dan kelebihan-kelenbihanmu yang selalu membiaskan pandangan ini. Terimakasih-sekali lagi. Atas kebahagiaan yang telah kau bagi. Walau hanya dengan melihatmu, mendengarmu melantunkan syair-syair indah. Itu sudah cukup bagiku. Dan kisah ini, akan berakhir disini. Saat Ini.
Ku buatkan kau sebuah rangkaian kata-sebagai penutup rasa. Dan selamat datang, kepada Ia yang sudah tergetar kembali dalam relung ini.
---------------------------
Hai!
Selamat datang di galaksi ku, Venus!
Semesta pasti tahu itu.
Walau ku tahu, kau tak akan pernah tau.

Sesuatu yang salah terjadi padaku.

Melekat pada jarin-jaring hati---hingga kini.
Bukankah mudah untuk mendiamkan dan membuat bisu sang waktu?
Aku sudah mencoba melakukannya.
Mempraktikkannya padamu.

Malang tak dapat dihindari, pada akhirnya.
Aku tak bisa menghilangkan itu. 
Menghilangkan ketidakraguanku-padamu.

Pada rasa yang terasa, tertata rapi dibalik malunya arteri kepada vena.
Aku toak merasakan kelelahan yang pasti.
Aku akan mencoba bertahan--hingga aku masih mampu mempertahankan itu.
Menampikmu, adalah sebuah kebohongan besar yang selalu kuhindari.

Satu hal,......
"Adakah diriku, singgah dihatimu?"
Tetapi, jika kau yang bertanya akan ku jawab dengan,
Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu.
Aku Mencintaimu. Aku Mencintaimu......

Hingga mengeras semua pembuluh ini.
Hingga nalar tak sanggup(lagi)membedakan logis dan rekaan.
Hingga-sebelum-lelah mendera hatiku,
Jawaban itu tetap untukmu.
Share: