Pemeran
:
·
Niken Rein (Rein)
·
Sayra Fakhiha (Aya)
·
Nabit Hudori (Nab)
·
Farish Razdafi (Ris)
·
Ryana Oline (Oline)
·
Alliya Manasikana (All)
#SEASON
1
Niken
Rein. Hari ini usianya bertambah. Tepat 16 tahun ia berpijak dibumi.
Beratus-ratus hari ia lewati hidup ini bersama sang Ayah tercinta. Ayah
sekaligus ibu baginya. Kasih sayang yang tercurah pun amatlah besar. Tak heran
memang, meski tumbuh tanpa ditemani hadirnya seorang ibu, tak nampak perbedaan
antara ia dan anak sebaya nya(read: kestabilan emosi).
Di
usianya kini, Rein beranjak memasuki babak baru dalam hidupnya. Tahun ini,
pendidikan nya ditingkat menengah pertama telah selesai. Memasuki jenjang yang
baru, Rein yang ditemani ayahnya mendaftar kesekolah menengah yang ia mau.
Sebut saja, SMA Pelita Ilmu yang tak jauh dari rumahnya. Saat berada di jalan,
Rein berpapasan dengan sahabat kecilnya-Aya. Aya pun akan mendaftar ke SMA
Pelita Ilmu, ditemani ayah dan ibunya.
Dalam
perjalanan menuju sekolah, Rein dan Aya pun berbincang-bincang. Sekedar
membahas bagaimana perasaan mereka menghadapi lingkungan baru yang akan mereka
jalani. Aya terlihat begitu antusias saat berkata pada Rein bahwa ia tidak
sabar menanti saat-saat ini.
“Rein,
aku deg-degan banget nih… gak sabar pengen cepet-cepet pake baju putih abu.” Ujar Aya kepada
Rein.
“Yaelah.. santai aja kali Ya! Belum juga
apa-apa. Ospek aja belum disiapin.” Sahut Rein sekenanya.
Rein
memang dikenal sebagai anak yang terlalu-masa
bodo- dan sekenanya. Tapi dibalik itu dia adalah anak yang Cerdas, terbukti
sejak di Sekolah Dasar hingga sekarang predikat “JUARA UMUM” pun sering
diraihnya, selain itu beberapa penghargaan non-akademis pun sering ia dapatkan.
Adapun Aya-sahabat kecilnya anak yang humble pun easy going dan sudah klop banget sama Rein ini, tidak begitu
menonjol dalam hal pendidikan(baik akademis maupun non akademis). Namun,
kelebihannya adalah dia memiliki kepekaan sosial yang tinggi, itulah mengapa
sejak kecil Aya dan Rein sangatlah kompak. Mereka saling mengisi baik kurang
atau lebih dari diri masing-masing.
Setelah
berbincang-bincang cukup lama, tibalah mereka bersama kedua orang tua nya
disekolah. Aya dan Rein kemudian mohon pamit kepada orang tua nya untuk melihat
sekeliling sekolah. Pun kedua orang tua mereka melanjutkan tujuannya, yaitu
mendaftarkan anaknya agar bisa bersekolah disini.
Rein
yang sudah mengenal seluk beluk SMA Pelita Ilmu ini mengajak Aya untuk
melihat-lihat setiap sudut sekolah. Dari gerbang utama Rein lalu belok
kesamping kiri dan turun melalui tangga untuk melihat keadaan Masjid. Kemudian,
dari Masjid mereka lalu mengarahkan badan searah jarum jam, dimana arahnya
tepat menuju Perpustakaan.
Setelah
berada diperpustakaan, Rein dan Aya meluangkan waktu sejenak untuk membaca
buku. Karena secara kebetulan, hobby mereka sama; yakni membaca. Yang berbeda
hanyalah dari genre buku yang dibaca. Rein lebih menyukai buku Non Fiksi
sedangkan Aya lebih menyukai Novel juga Komik.
Di
ruang perpustakaan dengan fasilitas yang memadai ini, setiap macam buku dipisah
dengan rak-rak buku berpenyekat antara lorong yang satu dengan yang lainnya.
Ya, tanpa bicara banyak, Rein meninggalkan Aya yang sedang asyik mencari Novel
mencari buku yang ingin ia baca.
Di
sudut ruangan paling ujung, disitulah tempat buku yang Rein cari, berlabelkan
“Non Fiksi”. Melangkah lah kedua kakinya menuju sudut ruangan itu. Dilihat juga
dicarinya beberapa buku yang menarik menurutnya yang akan ia baca. Ia lebih
senang membaca buku Auto-biografi tokoh-tokoh dunia. Karena menurutnya, itu
lebih bermanfaat ketimbang harus membaca cerita-cerita bualan para pujangga.
Diantara
barisan buku-buku yang bertendeng rapi di dalam rak, terselip buku yang
membuatnya penasaran hingga ingin membacanya. Buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang itu masih
membuatnya penasaran, walau sebenarnya berkali-kali pula ia telah membacanya.
Saat
ia ayunkan tangan nya untuk mengambil buku itu, tiba-tiba sekelebat tangan
telah menyambarnya lebih dahulu. Ia pun terkejut, lalu menoleh kearah tangan
yang memegang buku itu. Sepasang mata yang memperhatikannya lebih tajam
daripada tatapannya, ia lalu bergegas pergi meninggalkan orang itu.
Langkahnya
kian cepat, sampai sebelum pintu keluar, ia tarik tangan Aya yang sedang asyik
membaca itu. Dengan napas terengah-engah ia masih kaget dengan apa yang telah
ia alami-barusan.
Aya
pun bertanya ada apa dengan Rein, mengapa dia seperti itu. Namun sayang, Rein
pun tak menjawabnya. Aya pun mengerti, ia tak jadi melanjutkan pertanyaan lagi.
Setelah keluar dari perpustakaan Aya menuntun langkah Rein menuju Kantor
TU(disingkat;Tata Usaha). Disana kedua orang tua mereka sedang menyelesaikan
administrasi untuk keperluan sekolah.
~~~~~~~~~~~
Lalu, siapa sebenarnya sosok yang
dilihat Rein diperpustakaan itu?
Mengapa Rein terkejut melihatnya?
Apa yang akan dilakukan Aya untuk
menghilangkan rasa penasaran nya?
Tunggu lanjutan ceritanya yaaaa^^
0 komentar:
Posting Komentar