Tahu tidak rasanya menahan?
Menahan dari hal-hal yang sering dilakukan menjadi tidak melakukannya sama sekali.
Menahan Dari hal yang biasa dilaksanakan menjadi asing untuk dikerjakan.
Menahan Dari segala hal yang ingin kita lakukan tapi seakan tak berdaya.
Bukan tertahan, ini menahan.
Menahan rasa sakit itu sendirian. Menahan segala pedih sendirian. Tangis hingga haru pun harus Ku tahan. Hingga pelupuk Mata ini lelah menahan derasnya aliran air Mata dan Dada yang tak mampu membendung goncangan hati.
Sakit. Memang sakit. Sangat dalam sekali. Begitu menyesakkan.
Hingga tak Ada yang memperdulikan. Bahkan hingga memahami.
Dunia macam apa ini? Tak adil rasanya. Hanya aku dan aku. Yang harus menanggung semua ini. Semua kesakitan ini.
Melangkah pun tak bisa. Kedua kaki ini serasa terikat rantai yang digembok. Hingga sulit dilepaskan. Apalah artinya aku, jika tak Ada yang memahami. Secuil pun Dari dunia yang maha ini.
Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku ada?
Untuk dimarahi? Dibandingkan? Diberi beban yang begitu berat yang tak sesuai dengan perjalanan hidupku. Beban itu sangatlah membuatku rapuh. Bukan malah mendewasakan Ku. Beberapa konsep yang telah ku jabarkan dalam Peta hidup, sirnalah sudah. Aku mati. Aku rapuh. Jasadku hidup. Namun ragaku mati karenanya. Tak Ada yang peduli. Bahkan aku sendiripun lelah untuk memahami diriku dengan segala yang terjadi. Aku tak perlu belas kasih. Aku tak ingin dikasihani. Aku hanya ingin di akui. Bahwa aku Ada. Di dunia ini. Sama seperti kebanyakan orang. Aku hanya ingin aku diberi kebahagiaan. Setidaknya aku bisa membahagiakan diriku.
Menahan Dari hal yang biasa dilaksanakan menjadi asing untuk dikerjakan.
Menahan Dari segala hal yang ingin kita lakukan tapi seakan tak berdaya.
Bukan tertahan, ini menahan.
Menahan rasa sakit itu sendirian. Menahan segala pedih sendirian. Tangis hingga haru pun harus Ku tahan. Hingga pelupuk Mata ini lelah menahan derasnya aliran air Mata dan Dada yang tak mampu membendung goncangan hati.
Sakit. Memang sakit. Sangat dalam sekali. Begitu menyesakkan.
Hingga tak Ada yang memperdulikan. Bahkan hingga memahami.
Dunia macam apa ini? Tak adil rasanya. Hanya aku dan aku. Yang harus menanggung semua ini. Semua kesakitan ini.
Melangkah pun tak bisa. Kedua kaki ini serasa terikat rantai yang digembok. Hingga sulit dilepaskan. Apalah artinya aku, jika tak Ada yang memahami. Secuil pun Dari dunia yang maha ini.
Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku ada?
Untuk dimarahi? Dibandingkan? Diberi beban yang begitu berat yang tak sesuai dengan perjalanan hidupku. Beban itu sangatlah membuatku rapuh. Bukan malah mendewasakan Ku. Beberapa konsep yang telah ku jabarkan dalam Peta hidup, sirnalah sudah. Aku mati. Aku rapuh. Jasadku hidup. Namun ragaku mati karenanya. Tak Ada yang peduli. Bahkan aku sendiripun lelah untuk memahami diriku dengan segala yang terjadi. Aku tak perlu belas kasih. Aku tak ingin dikasihani. Aku hanya ingin di akui. Bahwa aku Ada. Di dunia ini. Sama seperti kebanyakan orang. Aku hanya ingin aku diberi kebahagiaan. Setidaknya aku bisa membahagiakan diriku.
0 komentar:
Posting Komentar