Sabtu, 14 Februari 2015

Terlintas begitu saja

Aku tak tahu, apakah ini cinta atau bukan.
Bagiku, yang ku ingat dalah Dia.
Sosoknya yang kulihat begitu mendebarkan hati ini.
Seakan ku ingat sesatu: " Adakalanya Kau sangat dekat, di nadiku. Adakalanya pun Kau begitu jauh, seperti matahari...."

Tak bisa ku bayangkan memang, batas antara mencintai dan penasaran mungkin hanya setebal kertas, lebih tipis dari 0,01 mm.
Kadang, aku memaknainya dengan sebutan cinta.
Di sisi lain, aku juga tak begitu mencintainya.
Lalu, perasaan apa yang hinggap di hatiku?
Aku memang belum tahu wujudnya.
Belum sempat melihat dengan mata indahku.
Namun, jauh dari dugaan aku telah mengenalnya melewati batasku.
Bahkan aku terlalu mengaguminya. Konyol memang.
Dia sempat memintaku agar aku menjauh dari hidupnya.

Akupun bingung dibuatnya. Menjauh?
Memangnya, sudah sedekat apakah kita?
Hanya sebatas mengenal dari medsos, lalu akhirnya saling  jatuh cinta dan menjalani hari layaknya mereka yang berstatus?
Ahh..yang benar saja!
Kita tak melakukan apapun seperti orang yang  berpacaran.
Kita hanya saling berkomunikasi dan kemudian saling jatuh cinta.

Pil pahitnya adalah, kita pun harus berakhir dengan tragis.
Tragis? tidak begitu.
Kita hanya menghentikan rasa yang ada. Itu saja.
Namun realitanya, cukup sulit bagiku.
Bahkan sangat sulit sekali.
Akupun tak mengerti lagi, bagaimana aku harus memahami diriku yang dalam keadaan stabil menjadi arogan? Aneh rasanya.

Dia datang tiba-tiba ke dalam hidupku. Membawa angin segar yang ku anggap akan terus membawa kesegaran. Lantas hilang bak ditelan bumi, seketika dia menjelma seperti topan yang menyapu habis daratan.
" Bukan! Bukan angin seperti itu yang kuharapkan."

Aku kalut. Kala pertama kalinya aku sungguh-sungguh jatuh hati padanya, diapun menjatuhkan ku pada titik terendah rasa. Seketika, semua kebahagiaan lenyap sudah.
Aku tak bisa mengatasinya. Tida, aku hanya taktahu bagaimana caranya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar